Nama Tempat (Lanjutan)

Musri Nauli, S.H. Foto : dok./jambi.win
Milenialjambi.win - Selain sungai sebagai penanda dan penamaan berbagai Dusun-dusun di Jambi, dikenal juga Pulau.

Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, Pulau adalah tanah (daratan) yg dikelilingi air. Baik air dari laut, sungai ataupun danau.

Nama Tempat

Musri Nauli, S.H., salah satu Advokat di Provinsi Jambi. Foto : dok./ist.
Penulis : Musri Nauli, S.H.

Membicarakan Jambi tidak dapat dilepaskan dari Sungai Batanghari. Sungai Batang Hari merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari, yang terdiri atas beberapa sub DAS seperti Sub DAS Batang Tembesi, Sub DAS Jujuhan, Sub DAS Batang Tebo , Sub DAS Batang Tabir, Sub DAS Tungkal dan Mendahara, Sub DAS Air Hitam, Sub DAS Airdikit, Sub DAS Banyulincir. Namun ada juga menyebutkan Batang Asai, Batang Tembesi, Batang Merangin, Batang Tabir, Batang Tebo, Batang Sumay, Batang Bungo, dan Batang Suliti.

Aliran Sungai Batanghari dan anak-anak sungainya dapat dilayari sepanjang 3.224 km dengan lebar 50-65 meter. Kedalaman alur pelayaran antara 1-10 meter. Sekitar 95 % ekspor Jambi setiap tahunnya diangkut melalui Sungai Batanghari. Disamping itu, bahan bakar minyak. Disamping itu, bahan bakar minyak, bahan kebutuhan dan muatan umum lainnya diangkut dan didatangkan ke Jambi melalui Sungai Batanghari.

Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Hari merupakan DAS terbesar kedua di Indonesia, mencakup luas areal tangkapan (catchment area) ± 4.9 juta Ha. Sekitar 76 % DAS Batang Hari berada pada provinsi Jambi, sisanya berada pada provinsi Sumatera Barat.

DAS Batang Hari juga berasal dari berada di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Di Landscape TNBT terdapat Margo Sumay, Marga IX Koto, Marga VII Koto dan Marga Tungkal Ulu.

Hulu Sungai Batanghari juga berasal dari TNKS. Bermuara ke Batang Tembesi, ke Batang Merangin, ke Batang Bungo bahkan juga mengairi batang tebo.

Muara Sungai dari TNKS terdapat Margo Batin Pengambang, Marga Batang Asai, Datuk Nan Tigo, Marga Bukit Bulan (Sarolangun) dan Seluruh Marga di Bangko. Termasuk juga mengairi sungai di Marga Batin III Ulu, Marga Pelepat (Bungo).

Hulu Sungai Batanghari juga berasal dari di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD). Marga Air Hitam dan Kawasan Orang Rimba di Makekal merupakan kehidupan masyarakat yang hulu sungai berasal dari Taman Nasional Bukit 12.

Sungai Batanghari merupakan muara dari sembilan hulu anak sungai (Sungai-sungai besar yang merupakan anak Sungai Batanghari adalah Batang Asai, Batang Tembesi, Batang Merangin, Batang Tabir, Batang Tebo, Batang Sumay, Batang Bungo, dan Batang Suliti.

Ada juga menyebutkan 9 hulu anak Sungai Batanghari yaitu Batang Asai, Batang Tembesi, Batang Merangin, Batang Tebo, Batang Bungo, Batang Jujuhan, Batang Sumay, Batang Tabir, Batang Pelepat.

Sungai kemudian dikenal dengna dialek “batang’. Sehingga Sungai Batanghari kemudian dikenal dengan 9 hulu anak Sungai Batanghari yaitu Batang Asai, Batang Tembesi, Batang Merangin, Batang Tebo, Batang Bungo, Batang Jujuhan, Batang Sumay, Batang Tabir, Batang Pelepat. Dan itu terpatri di “terpahat di tiang panjang yang terlukis di bendul jati” yang bernamakan ”Sepucuk Jambi sembilan lurah”.

Keberadaan masyarakat dengan sungai baik dilihat dari pendekatan ekonomi, politik, hukum dan social budaya.

Sungai adalah penanda, batas dan identitas sebagai keberadaan masyarakat di Jambi. Dengan sungai kemudian menghubungkan antara kampong, dusun bahkan antara satu dusun dengna dusun yang lain.


***


Penulis merupakan seorang Advokat yang bertempat tinggal di Provinsi Jambi

Indonesia Mestinya Tak Hukum Penyalahguna Narkoba

Komjen Pol. (Purn.) Anang Iskandar. Foto : dok./ist.
Penulis : Komjen Pol. (Purn.) Anang Iskandar

Indonesia menganut rezim tidak menghukum penyalah guna dengan hukuman penjara.

Hukuman penjara yang dijatuhkan oleh hakim, dalam memeriksa perkara narkotika yang terbukti bersalah secara sah dan menyakinkan sebagai penyalah guna untuk diri sendiri (direktori keputusan mahkamah agung) adalah anomali pemidanaan.

Kenapa begitu ?

Karena, hanya hakim di indonesia yang menghukum penjara penyalah guna (drug user), meskipun  indonesia menganut rezim mengancam penyalah guna secara pidana sedangkan pemidanaannya berupa rehabilitasi.

Hakim di seluruh dunia,  tidak ada lagi yang menghukum penjara atau bentuk hukuman lain selain rehabilitasi meskipun terbukti bersalah memiliki, menguasai narkotika untuk dikonsumsi, baik masuk dalam yuridiksi hukum pidana, maupun non pidana

Indonesia sejak berundang undang narkotika, selalu mencantumkan bahwa pemidanaan terhadap penyalah guna dan pecandu berupa pemidanaan alternatif berupa menjalani rehabilitasi meskipun penyalah gunanya diancam secara pidana.

Alternatif pemidanaan berupa rehabilitasi tersebut, dinyatakan secara jelas disetiap UU narkotika yang dibuat pemerintah dan DPR bahwa masa menjalani rehabilitasi atas keputusan atau penetapan hakim diperhitungkan sebagai masa menjalani hukuman.

Maknanya rehabilitasi atas keputusan atau penetapan hakim adalah hukuman bagi penyalah guna narkotika.

Dalam UU narkotika yang berlaku sekarang ini, hakim dalam memeriksa perkara penyalahgunaan narkotika diberi kewajiban untuk memperhatikan taraf ketergantungan narkotikanya terdakwanya (pasal 54), status pidananya (pasal 55 yo 128) dan memperhatikan kewenangan yang diberikan UU narkotika bahwa hakim dapat memutuskan terdakwa menjalani rehabilitasi bila terbukti bersalah dan menetapkan menjalani rehabilitasi bila ltidak terbukti bersalah (pasal 103).

Tempat menjalani rehabilitasi bagi penyalah guna atas perintah hakim baik berupa keputusan maupun penetapan di rumah sakit atau lembaga rehabilitasi yang ditunjuk  (pasal 56) 

Berdasarkan Peraturan Pemerintah no 25 tahun 2011 rumah sakit dan lembaga rehabilitasi yang melayani perawatan terhadap penyalah guna disebut  IPWL yang tugasnya melakukan perawatan bagi penyalah guna narkotika baik melalui wajib lapor bagi penyalah guna maupun melalui keputusan atau penetapan hakim untuk memerintahkan terdakwa penyalah guna untuk menjalani rehabilitasi.

Akibat anomali pemidanaan bagi penyalah guna narkotika, terjadi pula anomali hunian lapas di Indonesia, tidak hanya over kapasitas, tetapi juga menjadi sasaran peredaran gelap narkotika dan menjadi lokasi menggunakan narkotika bagi penyalah guna yang menjadi warga binaan.

Dan juga terjadinya residivisme perkara penyalahgunaan narkotika, merambahnya penyalahgunaan narkotika sampai ke desa desa dan suburnya peredaran gelap narkotika yang dapat berakibat terjadinya lost generation.

Siapa penyalah guna itu ?

Penyalah guna itu adalah orang yang menggunakan narkotika tanpa hak dan melanggar hukum (pasal 1/15) yang berpotensi menjadi pecandu. Harap dibedakan penyalah guna dengan pengedar.

Bila penyalah guna narkotika tersebut di visum atau di assesmen akan diketahui taraf ketergantungannya.

Jika hasil visum et repertum atau assesmen menyatakan tidak ketergantungan karena baru pertama kali menggunakan narkotika apalagi karena dirayu, diperdaya, ditipu, dibujuk atau dipaksa menggunakan narkotika maka penyalah guna tersebut tergolong sebagai korban penyalahgunaan narkotika.

Jika hasil visum et repertum atau assesmen menyatakan ketergantungan narkotika dengan taraf tertentu maka penyalah guna tersebut termasuk pecandu narkotika.

Penyalah guna baik sebagai korban penyalahgunaan narkotika maupun sebagai pecandu narkotika secara yuridis wajib menjalani rehabikitasi (pasal 54).

Bagaimana aturan pemidanaannya ?

Indonesia secara resmi menggunakan aturan pemidanaa alternatif berupa rehabilitasi sejak  meratifikasi Konvensi Tunggal Narkotika Tahun 1976 dengan UU no 8 tahun 1976 tentang pengesahan konvensi tunggal narkotika beserta protokol yang merubahnya.

Indonesia berpengalaman tiga kali berganti undang undang narkotika, yaitu UU no 9 tahun 1976 kemudian diganti dengan UU no 7 tahun 1997 dan yang terakhir adalah UU no 35 tahun 2009 tentang narkotika yang saat ini berlaku.

Ketiga UU narkotika tersebut menganut rezim tidak menghukum pidana bagi penyalah guna, pemidanaan bagi penyalah guna berupa pidana alternatif berupa menjalani rehabilitasi meskipun diancam secara pidana.

UU no 35 tahun 2009 tentang narkotika yang berlaku sekarang ini lebih detail dalam menentukan tujuan dibuatnya UU narkotika  yaitu menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial bagi penyalah guna dan pecandu (pasal 4d). 

Itu sebabnya hakim (pasal 127/2) diberi kewajiban UU dalam memeriksa perkara penyalah guna untuk memperhatikan unsur yang meringankan yaitu keterangan kondisi taraf ketergantungannya (pasal 54), unsur pemaaf yaitu kalau melakukan wajib lapor dan mendapatkan perawatan, status pidananya menjadi tidak dituntut pidana (pasal 55 yo128) dan unsur kewajiban hakim untuk menggunakan pasal 103 yaitu dapat menjatuhkan hukuman rehabilitasi baik terbukti maupun tidak terbukti bersalah.

Rehabilitasi atas putusan atau penetapan hakim adalah proses penyembuhan bukan proses pidana atau pemenjaraan, tidak memerlukan pengamanan khusus selama menjalani rehabilitasi.

Orang tua diberi kewajiban untuk melaporkan ke IPWL bila menjadi pecandu (relapse), kalau sengaja tidak melaporkan anaknya ke IPWL untuk mendapatkan perawatan diancam dengan pidana 6 bulan kurungan.

Biaya rehabilitasi dibebankan pada negara dianggarkan pada anggaran IPWL dibawah Kemkes, Kemsos dan BNN.

Praktik pemidanaannya bagaimana ?

Sejak berlakunya UU no 35 tahun 2009 tentang narkotika, tujuannya diperjelas yaitu menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial bagi penyalah guna dan pecandu.

Tetapi dalam praktiknya pemidanaan terhadap penyalah guna melenceng dari tujuan UU narkotika, abai terhadap unsur yang meringankan dan unsur pemaaf serta unsur kewajiban yang diberikan UU kepada hakim yaitu hakim dapat memutuskan atau menetapkan penyalah guna menjalani rehabilitasi meskipun terbukti bersalah.

Di titik ini menurut catatan saya anomali pemidanaan  menyebabkan anomali hunian lapas, terjadinya residivisme penyalahgunaan narkotika, yang dampaknya merugikan negara.

Saya menyarankan kepada Pemerintah dan DPR  untuk meluruskan penegakan hukum terhadap penyalahgunaan narkotika yang merugikan semua fihak baik pemerintah, penyalah guna sendiri dan keluarganya serta masarakat secara luas.

Salam anti penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Selamatkan penyalah gunanya dan penjarakan pengedarnya.


***


Penulis adalah Demisioner Kepala BNN serta pernah menjabat sebagai Kapolda Jambi.

Opini Monas Junior : Judul SEO Versus EYD

Ilustrasi mesin ketik analog. Foto : dok./ist.
Penulis : Monas Junior

Bagi yang sudah biasa berselancar di dunia maya, khusus blog atau situs media online atau toko online, tentu sudah sangat mengenal dengan istilah SEO. Apa itu SEO? Pengertian umumnya SEO dari singkatan Search Engine Optimization atau pengoptimalan mesin pencari / telusur.

SEO ini adalah serangkaian kata atau kalimat yang ditulis khusus sehingga output akhirnya adalah keyword atau kata kunci di situs mesin telusur atau mesin pencari. 

Ada banyak mesin pencari di dunia ini. Mulai dari google.com, yandex.com, baidu.com, bing.com, yahoo.com, duckduckgo.com dan banyak lainnya.

Setiap mesin pencari ini memiliki robot perambah atau crawler bots yang mencari kata-kata atau keyword untuk gudang database mereka. Keyword-keyword itulah yang nantinya akan ditampilkan sesuai apa yang diketik user atau para pencari di situs mereka.

Nah, apa hubungannya Judul SEO Vs EYD di media online?

Baiklah. Mari kita bertukar pikiran.

Dari keterangan sepintar di atas, kita bisa tahu bahwa SEO sangat penting bagi industri media online. Semakin kuat SEO, semakin besar kemungkinannya bisa terindex di mesin pencari. Dan semakin banyak artikel berita yang terindex di mesin pencari, maka semakin besar pula traffic pengunjung situs media online bersangkutan.

Persoalannya adalah, kebanyakan judul SEO sedikit melanggar kaidah-kaidah EYD (ejaan yang disempurnakan) atau saat ini memakai istilah PUEBI kepanjangan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia.

Bedanya di mana? Lumayan banyak.

Misal dari penggunaan besar kecil huruf di judul.

Sudah jadi patokan bahwa pada judul artikel apapun jenisnya, termasuk berita, menggunakan pola :

1. Huruf besar/kapital di depan kalimat

Misal : "Cara membuat judul seo berita dengan baik"

2. Huruf besar/kapital di depan tiap kata kecuali kata sambung

Misal : "Cara Membuat Judul SEO Berita dengan Baik"

3. Semua huruf besar/kapital

Misal : "CARA MEMBUAT JUDUL SEO BERITA DENGAN BAIK"

Tiga aturan pembuatan judul ini sudah berlaku sejak dahulu sampai saat ini. Tetapi industri media online yang menuntut kekuatan SEO, membuat hukum judul baku ini jadi sedikit terganggu.

Kenapa begitu? Karena banyak faktor.

Misal, faktor pengetikan.

Rata-rata pencari informasi di mesin telusur, tak mengindahkan kaidah penulisan yang benar. Entah karena buru-buru atau malas ngetik, rata-rata menulis tanpa menggunakan huruf kapital pada kalimat yang dicari.

Misal Si Walter sedang mencari siaran langsung bola Barcelona lawan Juventus. Maka dia akan mengetik -semisal Walter menggunakan mesin pencari Google-, "link live streaming barcelona vs juventus". Dari ketika Walter ini, bisa terlihat bahwa ia tak peduli dengan huruf besar atau kecil pada Live, Barcelona, Vs dan Juventus. Yang penting ia bisa segera dapat informasi link live streaming bola itu dengan cepat dari google.

So, akibatnya apa? Bagi penyedia kontent yang memuat informasi ini, tetapi dengan aturan huruf besar kecil, akan sulit ditemukan Google (soal ini masih debatable, tetapi banyak profesional SEO mempercayai hal ini).

Melihat fakta perilaku Walter ini, editor media online mestinya menggunakan kaidah penulisan versi Si Walter pada judul.

Misal, semestinya judul berita sesuai PUEBI, "Link Live Streaming Barcelona Vs Juventus", menjadi "link live barcelona vs juventus".  Dengan judul ini, robot crawler google dengan mudah menemukannya sesuai keinginan Walter. 

Tetapi karena aturan penulisan judul tidak sesuai PUEBI, terpaksa kata "Link" sedikit dikorbankan. Sehingga menjadi "Link live streaming barcelona vs juventus". Dengan harapan mesin pencari mengabaikan huruf kapital pada kata "link", sehingga mudah ditemukan oleh Walter.

Ini hanya sedikit contoh kerumitan membuat judul SEO yang sesuai atau tak jauh-jauh amat berbeda dengan PUEBI.

Masalah berikutnya ada pada lead atau kepala berita atau paragraf pertama berita. Tak hanya PUEBI, di dalam lead terpaksa harus menerapkan kaidah SEO dan sedikit mengabaikan kaidah PUEBI atau bahkan rukun iman berita (5W1H).

Jika seharusnya pada lead berita sudah masuk seluruh rukun iman berita, karena tuntutan SEO dan mesin pencari, terpaksa beberapa elemen berita itu "dicicil" di paragraf-paragraf berikut.

Contohnya klembail ke kasus Walter.

Karena sudah menulis judul "Link live streaming barcelona vs juventus", dan kebutuhan SEO mengharuskan kalimat ini ada pada paragraf pertama, terpaksa di dalam berita dituliskan seperti berikut :

"Jakarta - Anda mencari link live streaming barcelona vs juventus, ini jawabannya. Anda bisa mengakses siaran langsung ini di situs youtube chanel bola."

Dari pargaraf di atas, kita bisa melihat bahwa, oke lah PUEBI tak terlalu meleset, tetapi dari kaidah penulisan berita, paragraf pertama tersebut lumayan kurang pada 5W1H-nya.

Yang ada hanya informasi soal "What/apa" = link live streaming barcelona vs juventus. Elemen lain seperti siapa "Who/siapa" dan seterusnya, tidak tercantum di dalam paragraf pertama itu. Padahal, berita yang idel, semua informasi 5W1H sudah masuk semua di lead berita.

Makanya rata-rata editor, "terpaksa" memasukkan sisa 5W1H itu ke paragraf-paragraf berikut sampai semua terpenuhi. 

Lihat, menarik bukan?

Ini baru sebatas paragraf awal. Kembali ke judul berita, ada juga aturan SEO yang agak rumit dan sedikit melenceng dari PUEBI. Misal dari penggunaan tanda baca.

Mencermati aturan SEO terbaru 2021, situs pencari mulai tidak suka dengan kalimat menggunakan tanda koma / " , ". Jika anda blogger dan menggunakan sistem manajemen konten seperti Wordpress, tentu sudah biasa menggunakan plugin Yoast SEO.

Dari sini kita bisa melihat score SEO artikel. Nah, kalau memasukkan judul yang menggunakan koma, biasanya langsung keluar tanda merah pada SEO. Itu artinya judul yang kita gunakan jelek dan rawan tak diindex situs pencari.

Padahal, kalimat tidak langsung, seringkali menggunakan koma sebagai tanda penghubung. 

Semisal harus menulis "Barcelona Vs Juventus, Ini Link Live Streaming-nya", terpaksa menulis kata langsung "Link live streaming barcelona vs juventus". Atau diakali dengan tanda baca titik dua " : ", menjadi "Barcelona vs juventus: ini link live streaming-nya". Atau menggunakan garis "-", "Barcelona vs juventus - ini link live streaming-nya".

Ini semua harus dilakukan demi memenuhi kaidah-kaidah SEO. 

Sampai hari ini, para editor dan SEO Master, selalu direpotkan dengan pemilihan judul yang sesuai kaidah SEO tetapi juga tak melanggar kaidah PUEBI. Untuk memilih satu judul artikel saja, bisa memakan waktu 10 sampai 30 menit. 

Belum lagi research keyword judul yang lumayan memakan waktu. Jadi, yah, biasalah! Menulis judul berita di media online tak semudah menulis judul berita di media cetak.

Ya, kah?

Baiklah. Karena penulis juga pernah menjadi jurnalis di media cetak, lumayan pahamlah membuat judul berita untuk koran. 

Yang paling penting itu adalah judul harus menarik dan memancing minat baca. Penulisan judul tinggal sesuaikan PUEBI. Pikir sebentar, dapat ide, tulis. Kelar.

Nah di media online tak segampang itu, kawan. Pikir sebentar, dapat ide, research keyword, rancang judul berita, rancang paragraf pertama, timbang-timbang SEO dengan PUEBI, rasanya pas, baru berita bisa diposting.

Lihat perbedaannya? Melelahkan!

Karena melelahkan itu, rata-rata media online berskala besar, biasanya menggunakan jasa SEO Master sebagai garda terdepan "pertempuran" di mesin pencari. Mereka sebagai pintu terakhir sebelum berita diposting. Juga sebagai prajurit yang selalu siap mempertahankan jika keyword-keyword itu "dicuri" oleh pesaing.

Melihat fakta-fakta di atas, bisa disimpulkan bahwa judul SEO kadang agak berlawanan dengan judul EYD/PUEBI. 

Ya, mau bagaimana lagi. Ini adalah tuntutan mesin pencari dan user mesin pencari. Jangan salahkan mesin pencari, salahkan user yang tak peduli dengan kaidah PUEBI sewaktu mengetik di mesin pencari. Hehehehe... emang begitu ya? Entahlah....

Btw, itu saja unek-unek hari ini. Selamat perang lagi kawan, Judul SEO Vs EYD.(***)

Monas Junior adalah nama pena dari Alpadli Monas. Salah satu Jurnalis senior di Provinsi Jambi yang pernah menjadi Pemimpin Redaksi harian pagi Jambi Independent (Group Jawa Pos) yang sampai hari ini masih belajar di media online Jambiseru.com.   

Baca dari sumber langsung : "Opini Monas Junior : Judul SEO Versus EYD"